Sejarah Tetanus

Sejarah Tetanus – Penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi Clostridium tetani adalah penyakit tetanus (lockjaw). Penyakit Tetanus adalah penyakit yang ditandai oleh spasme otot yang tidak terkendali akibat kerja neurotoksin kuat, yaitu tetanospasmin, yang dihasilkan bakteri ini. Penyakit ini seringkali fatal, terutama pada umur sangat muda atau sangat lanjut, dan dapat dicegah dengan imunisasi. Penyakit ini terjadi terutama di negara berkembang pada neonatus, anak, dan dewasa muda, tetapi masih ditemukan di Amerika Serikat, khususnya pada orang dewasa di atas umur 50 tahun yang tidak diimunisasi atau diimunisasi tetapi tidak adekuat.

Sejarah Tetanus

Mikroorganisme ini ditemukan di tanah, dan pada traktus intestinal, juga feses berbagai hewan. Angka pembawa penyakit pada manusia bervariasi dari 0-25%. Penyakit Tetanus merupakan penyakit fatal pada manusia. Angka kematian dilaporkan bervariasi dari 40-78%. Angka kematian untuk penyakit tetanus yang tidak diobati adalah 85-90% untuk bayi dan 40-50% untuk orang dewasa. Dengan perawatan di rumah sakit, angka kematian dapat ditekan. Penyebab kematian umumnya adalah kegagalan pernapasan karena sesak nafas atau gagal jantung.

Sejarah Tetanus

Sejarah Tetanus

Faktor predisposisi yang paling sering pada penyakit tetanus adalah daerah yang mempunyai potensial oksidasi-reduksi sangat rendah sehingga spora penyakit  tetanus dapat bergerminasi. Hal ini dapat disebabkan oleh serpihan yang besar, daerah jaringan nekrotik karena terkontaminasi oleh tanah atau nekrosis setelah suntikan narkoba atau obat terlarang yang terkontaminasi.

Sejarah Tetanus

Sejarah Tetanus telah dikenal sejak berabad-abad lalu. Patogenesisnya mulai dipahami pada tahun 1884 ketika Carle dan Rattone menimbulkan tetanus pada kelinci dengan cara menyuntikkan suspensi bahan dari pustula akne, tempat infeksi tetanus pada kasus fatal manusia. Pada tahun yang sama Nicolaier menimbulkan tetanus dengan cara inokulasi sampel tanah pada berbagai hewan laboratorium kecil. Ia mengenali keberadaan batang yang panjang serta tipis dan mampu memelihara organisme itu pada biakan campuran. Isolasi organisme itu pada biakan murni dilaksanakan pada tahun 1889 oleh Kitasato, yang menghilangkan bakteri pencemaran yang tidak berspora dengan cara pemanasan dan menimbulkan penyakit pada hewan dengan menginokulasikan isolatnya. Pembuatan toksoid oleh Behring dan Kitasato pada tahun 1890 dan produksi antitoksin pada berbagai hewan dalam beberapa tahun berikutnya, membuka jalan untuk kemajuan pesat dalam pemahaman patogenesis penyakit toksigenik maupun dalam pengembangan tindakan pencegahan dan pengobatan.

Seperti pada semua infeksi luka yang disebabkan oleh Clostridium, kejadian awal pada tetanus adalah kejadian trauma pada jaringan hospes, yang diikuti dengan kontaminasi luka oleh Clostridium tetani. Kerusakan jaringan menyebabkan menurunnya potential oksidasi-reduksi sehingga menyediakan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan Clostridium tetani. Setelah pertumbuhan awal, bakteri ini tidak invasif dan tetap terbatas berada di jaringan nekrotik, yaitu tempat Clostridium tetani menghasilkan toksin yang mematikan. Dan pertumbuhan tetanus biasanya disebabkan oleh masuknya spora bersama benda asing dan bakteri lain ke dalam jaringan yang rusak atau mati sehingga tersedia keadaan anaerob yang menguntungkan bagi pertumbuhannya. Kadang-kadang, spora bakteri yang masuk pada cedera terdahulu dapat bertahan di dalam jaringan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan dapat diaktifkan untuk menjalani pertumbuhan vegetatif ketika terjadi trauma kecil yang mengubah keadaan setempat.

Penyebab Tetanus

Sejarah Tetanus diawali karena penyebab tetanus oleh neurotoksin yang kuat, yaitu tetanospasmin yang dihasilkan sebagai protein protoplasmik oleh bentuk vegetatif C. tetani pada tempat infeksi yang terlokalisasi dan dilepaskan terutama ketika terjadi lisis bakteri tersebut. Pembentukan toksin ini tampaknya dikendalikan oleh plasmid. tetanospasmin dapat terikat secara kuat pada gangliosida neural, dan tempat masuknya yang terpenting ke dalam susunan saraf adalah myoneural junction pada neuron motorik alfa. Setelah toksin menjalar ke dalam neuron, toksin tersebut tidak lagi dapat dinetralkan. tetanospasmin dibawa melalui transpor aksonal retrograd ke neuroaksis dan di situ toksin tesebut bermigrasi secara transinaptik ke neuron lainnya. Hal yang terpenting di antara neurin ini adalah sel penghambat presinaptik pada neuroaksis dan mencegah pelepasan transmiter. Karena tidak ada hambatan tersebut, neuron motorik yang lebih bawah akan meningkatkan tonus otot sehingga timbul kekakuan otot. Hal ini memungkinkan timbul spasme otot agonis ataupun otot antagonis secara simultan, yang merupakan ciri khas tetanus. tetanospasmin dapat pula memudahkan kontraksi otot spontan pada tetanus yang berat tanpa potensial aksi pada saraf eferen.

Salah satu di antara faktor yang menentukan perjalanan klinis penyakit tetanus pada orang yang tidak diimunisasi adalah jumlah toksin yang dihasilkan dan panjang jalur saraf yang harus dilalui oleh toksin untuk mencapai neuroaksis. Bila jumlah tetanospasmin cukup besar untuk menyebar melalui pembuluh limfe dan aliran darah ke myoneural junction di seluruh tubuh, yang akan terkena terlebih dahulu adalah otot dengan jalur saraf terpendek. Dengan demikian, waktu transpor ke neuroaksis adalah yang terpendek. Pada tetanus generalisata yang terkena pertama-tama adalah otot pengunyah, otot muka dan otot leher, kemudian secara desendens diserang pula otot distal. Pada jenis tetanus generalisata ini yaitu bentuk penyakit yang paling sering, pelepasan jumlah toksin yang lebih besar dari luka ke dalam aliran darah, cenderung menimbulkan permulaan penyakit serta perkembangan gejala tetanus yang lebih cepat ataupun penyakit yang lebih berat. Bila jumlah tetanospasmin sedikit dan dibawa ke neuroaksis hanya melalui jalur saraf regional, permulaan kekakuan otot akan tertunda sebanding dengan panjang jalur saraf. Keterlibatan otot mungkin tetap terbatas pada daerah sekitar luka atau mungkin terjadi tetanus asendens bila terdapat toksin yang cukup banyak sehingga dapat menyebar ke arah kranial di dalam medula spinalis.

Sejarah Tetanus


=====================================

>>> Propolis Melia Nature Untuk Mengobati Penyakit Tetanus dan Penyakit Lainnya, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Penyakit Tetanus and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *