Penyakit Tetanus Pada Balita

Penyakit Tetanus Pada Balita – Penyakit tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Clostridium tetani. Penyakit tetanus ditandai dengan spasme yang terjadi pada otot yang tidak terkontrol dan biasanya terjadi akibat dari kerja neurotoksin yang kuat. Neurotoksin ini adalah tetanospasmin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Penyakit tetanus ini bisa menyebabkan kejadian yang fatal. Penyakit tetanus ini banyak dialami oleh mereka yang masih kecil. Namun pencegahan penyakit tetanus bisa dilakukan dengan pemberian imunisasi atau vaksinasi. Rata-rata anak yang menderita penyakit tetanus ini biasanya mereka belum pernah mendapatkan imunisasi tetanus. Maka hal yang perlu diingat adalah pentingnya untuk memberikan imunisasi dan juga untuk memelihara kesehatan lingkungan dan individu.

Penyakit Tetanus Pada Balita

Penyakit Tetanus Pada Balita

 Penyakit Tetanus

Penyakit tetanus pada balita bisa menyebabkan sistem saraf pusat mengalami ganguan karena akibat dari infeksi bakteri yang yerjadi yang masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka. Luka yang terbuka dan dalam ini bisa terkontaminasi dengan kotoran dan hal lain yang bisa menyebabkan penyakit ini berkembang.

Gejala penyakit tetanus pada balita biasanya ditandai dengan anak tidak biska membuka mulutnya, susah untuk menelan sesuatu, kontraksi yang terjadi dibagian wajah, kejang otot yang terjadi pada perut belakang, leher, dan anggota badan lainnya. Biasanya gejala tetanus ini akan muncul sekitar 21 hari setelah terinfeksi.

Pemeriksaan Tetanus

Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada penyakit tetanus pada balita adalah mengamati lokasi lukanya. Penyebab dari luka misalnya terkena benda yang sudah karat, karena jatuh, kecelakaan, dan jatuh didekat kotoran hewan. Atau mengamati luka yang pernah terjadi misalnya ada otitis media, karies gigi, dan juga pernah diberi ATS atau Toxoid atau yang lainnya.

Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan mengamati gejala yang terlihat misalnya sakt saat menelan, susah napas, tidak bisa buang air kecil. Kemudian setelah itu dilakukan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan terdapatnya lekositoris ringan. Kadang juga peningkatan pada TIK, dan pada pemeriksaan bakteriologis pada daerah luka yang sudah ditemukan.

Penyakit tetanus pada bayi yang terjadi di awali dengan kuman yang masuk ke dalam tubuh bayi lewat tali pusat yang dipotong dengan menggunakan alat yang tidak steril dan juga pada tali pusat yang tidak terawat dengan steril. Awalny kuman ini masuk ke dalam spira. Dan kemudian jika didaerah potongan dari tali pusat tidak mengandung oksigen dengan jumlah yang cukup, maka spora biasanya akan berkembang menjadi suatu bentuk vegetatif yang bisa menghasilkan suatu racun atau juga toksin. Kemudian toksin atau racun tadi bsia menyerang pada sistem saraf sehingga pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya kekakuan pada otot tubuh. Kekakuan yang terjadi biasanya pada bagian tempat masuknya kuman atau juga pada otot yang kecil misalnya adalah seperti otot pipi atau masseter yang disebut dengan trismus.

Kemudian jika toksin atau racun ini masuk ke dalam sum-sum tulang belakang, maka lama kelamaan akan terjadi suatu kekakuan yang menjadi semakin berat dibagian anggota geraknya. Otot-otot yang juga begaris pada dada, dan perut akan menimbulkan suatun kekejangan pada seluruh tubuh. Jika toksin atau racun mencapai ke dalam saraf pusat. Toksin yang terjadi pada sistem saraf pusat otonom juga bisa berpengaruh sehingga akan menyebabkan suatu gangguan dibagian saluran pernapasan, sistem metabolisme, hemodonamika, hormonal, dan juga pada bagian saluran pencernaan, saluran kemih serta bagian neuromuskular, terjadinya penyempitan pada jalan nafas, penyakit Hipertensi, gangguan yang terjadinya pada irama penyakit jantung, mengalami demam tinggi adalah salah satu bentuk penyulit yang terjadi sebagai suatu akibat dari ganguan saraf otonom yang dulu juga jarang dilaporkan akibat dari penderita sudah meninggal sebelum gejalanya muncul.

Pada kasus neonatus yang mengalami infeksi Clostridium tetani, dan biasanya baru akan menunjukkan beberapa gejala tetanus di hari ketiga setelah proses melahirkan. Hal ini biasanya diakibatkan karena adanya suatu masa inkubasi tetanus yang biasnaya terjadi antara 3-12 hari. Maka hal ini lama kelamaan akan menjadi semakin memendek menjadi sekitar 1-2 hari dan bisa juga menjadi semakin memanjang lebih dari satu bulan, maka semakin pendek masa inkubasi akan semakin buruk juga prognosisnya. Ada suatu hubungan yang terjadi antara jarak tempat dimana kuman masuk dengan susunan dari saraf pusat serta juga interval antara dari terjdinya luka yang diawali dengan penyakit, dan semakin jauh dari tempat invasi, maka akan semakin panjang juga masa inkubasinya.

Penanganan Penyakit Tetanus

Prinsip dari penanganan penyakit tetanus yang dilakukan adalah mencegah dari terjadinya kekejangan pada kekakunan otot, menetralisasi racun atau toksin dan juga membunuh kuman penyakit tetanus yang ada di dalam tubuh penderita. Untuk membantu mencegah terjadinya kekejangan atau juga kekakuan pada otot, maka biasanya akan diberikan obat tetanus jenis benzodiazepin. Obat ini biasanya mempunyai suatu aktivitas untuk menenangkan, sebagai obat anti kejang dan juga untuk melemaskan otot yang sangat kuat. Namun efek samping yang ditimbulkan bisa berupa depresi pada pernapasan, dan terutama terjadi jika diberikan dengan dosis yang tinggi. Untuk membantu menetralisasi racun atau toksin yang ada di dalam tubuh, maka biasanya akan diberikan obat anti tetanus serum. Selain itu, terapi pemberian obat antibiotik biasanya bertujuan dalam membantu memberantas kuman tetanus.

Penyakit Tetanus Pada Balita


=====================================

>>> Propolis Melia Nature Untuk Mengobati Penyakit Tetanus dan Penyakit Lainnya, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Penyakit Tetanus and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *